Free Web Hosting | free host | Free Web Space | BlueHost Review

ke menu Cibunut

GKI TAMAN CIBUNUT

JALAN VAN DEVENTER 11 BANDUNG 40112

TLP. 022.4205541 4264135 FAX. 022.4239853

kembali ke Lobby

                                                  informasi disusun berdasarkan inisiatip perorangan

U M U M

PENGELOLA

KARYAWAN

KEGIATAN

MINGGU INI

RENUNGAN

ACARA

A R S I P

SEJARAH

PENGERJA

IMAGES

L I N K

E-CEMPLUNG

 

 

 

TUBUH KITA MENJADI SENJATA KEBENARAN
Roma 6 : 1—14 (nas ayat 12—14)


Seorang mahasiswa kristen sungguh merasakan beratnya pesan Roma 6:1-14 ini, khususnya ayat 12-14. Mahasiswa itu aktif mengikuti acara PA di gerejanya, persekutuan doa di kampus, ia bersaksi tentang kasih Tuhan, membaca buku kristen.Tetapi ia juga memelihara dosa, menghamba kepada dosa, bukan kepada kebenaran. Sebab itu ia suka ngelamun dan murung.
 

Tidak ada orang tahu bagaimana dua kekuatan yang diuraikan Roma 6 itu sangat menggelisahkan hatinya. Ada dua hal yang bertentangan di sini: yang satu kekuatan Kristus, yang lain kekuatan dosa. Apa artinya kalau seseorang menjadi kristen? Ini artinya: ia harus mati terhadap dosa, dan hidup bagi Kristus. Ia tidak lagi hidup menghamba kepada dosa, tetapi menghamba kepada Kristus. Ia harus hidup bagi Allah, hidup baru! Ia harus menjadi senjata kebenaran.


Ternyata ia menjalankan keduanya. Misalnya, selama kuliah di kota yang jauh dari keluarganya, uang kost dan uang kuliah yang dikirimkan sering ia gunakan untuk kesenangan dan kepuasan yang buruk dalam soal seks. Kalau tiba, gelap mulai turun, ia berada dalam pergumulan yang luar biasa. Ia tidak ingin keluar malam untuk mencari wanita-wanita yang menjajakan dirinya di ruang-ruang mewah maupun di jalan-jalan. Namun godaan itu tidak terbendung, ia pergi juga dan pulang menjelang subuh dengan kepuasan seks yang membuat hatinya semakin sedih. Ia merasa, ia telah bertindak lalim terhadap orangtuanya yang sudah cukup tua, yang membiayai kuliahnya dengan susah payah. Banyak sekali uangnya habis di tempat kesenangan itu. Kadang-kadang ia sudah bertekad untuk tetap di kamarnya. Tahu-tahu ia berdiri dan memegang grendel pintu untuk pergi, lalu sadar sehingga grendel dilepas lagi kemudian duduk. Tak lama kemudian ia berdiri, mendekati pintu, membukanya, dan pergi lagi!


Demikianlah terjadi setiap saat. Dalam hal itu ia sangat sulit mengatasi pergumulannya. Terasa berat sekali nas ini baginya. Tubuhnya tidak menjadi senjata kebenaran, tetapi menjadi senjata kelaliman terhadap orangtuanya. Ia merasa menjadi kejam, lalim dalam hidupnya. Ia sering membayangkan orangtuanya yang mengumpulkan uang sedikit-sedikit agar bisa menyekolahkan dia. Tetapi uang itu terserap oleh kesenangan yang buruk. Ia telah merugikan orangtuanya, kekasihnya itu. Mungkin tidak hanya dia. Mungkin banyak di antara kita yang sedang bergulat dengan dua hal yang dipertentangkan Roma 6 ini. Dan mungkin ada yang berhasil, ada yang masih sedang bergulat, dan ada yang terus saja melakukannya tanpa pergumulan lagi. Mungkin ada yang menjadi lalim dan kejam terhadap keluarganya terus menerus dengan jalan berkhianat gara-gara pengaruh kekuatan dosa.


Dalam hal itu firman ini mengingatkan apa artinya kita dibaptiskan dalam nama Kristus. Kita yang sudah dibaptiskan, sudah ikut dikuburkan bersama Dia, sehingga dosa ikut terkubur. Lalu kita ikut dibangkitkan bersama Dia, sehingga kita hidup secara baru (baca ayat 3-4). Jadi oleh usaha Kristuslah, kita dapat berharap banyak. Mintalah pertolongan-Nya, berdoalah, sebab kita berada di bawah kasih karunia, bukan di bawah Taurat (14). Jangan berharap banyak pada usaha diri sendiri sebab kita tidak berada di bawah Taurat, hukum yang mendorong usaha manusia. Tetapi mari kita berharap pada usaha dan kekuatan Kristus, karena kita berada di bawah kasih karunia. Kekuatan kita harus ditaruh
dalam kekuatan-Nya, maka kita akan berhasil. Mungkin sekali mahasiswa tadi terlalu berharap pada kekuatannya, mengandalkan usahanya, kemauan baiknya sendiri. Kalau ini benar, maka itu adalah usaha yang taurati, tidak injili. Injil berisi kasih karunia. Kiranya kita berhasil untuk hidup dalam kebenaran, menjadi alat kebenaran karena sungguh-sungguh bersandar pada kasih karunia Tuhan Yesus Kristus. Amin.