|
TUBUH KITA MENJADI SENJATA KEBENARAN
Roma 6 : 1—14 (nas ayat 12—14)
Seorang mahasiswa kristen sungguh
merasakan beratnya pesan Roma 6:1-14
ini, khususnya ayat 12-14. Mahasiswa
itu aktif mengikuti acara PA di
gerejanya, persekutuan doa di kampus,
ia bersaksi tentang kasih Tuhan,
membaca buku kristen.Tetapi ia juga
memelihara dosa, menghamba kepada
dosa, bukan kepada kebenaran. Sebab
itu ia suka ngelamun dan murung.
Tidak
ada orang tahu bagaimana dua kekuatan
yang diuraikan Roma 6 itu sangat
menggelisahkan hatinya. Ada dua hal
yang bertentangan di sini: yang satu
kekuatan Kristus, yang lain kekuatan
dosa. Apa artinya kalau seseorang
menjadi kristen? Ini artinya: ia
harus mati terhadap dosa, dan hidup
bagi Kristus. Ia tidak lagi hidup
menghamba kepada dosa, tetapi
menghamba kepada Kristus. Ia harus
hidup bagi Allah, hidup baru! Ia
harus menjadi senjata kebenaran.
Ternyata ia menjalankan keduanya.
Misalnya, selama kuliah di kota yang
jauh dari keluarganya, uang kost dan
uang kuliah yang dikirimkan sering ia
gunakan untuk kesenangan dan kepuasan
yang buruk dalam soal seks. Kalau
tiba, gelap mulai turun, ia berada
dalam pergumulan yang luar biasa. Ia
tidak ingin keluar malam untuk
mencari wanita-wanita yang menjajakan
dirinya di ruang-ruang mewah maupun
di jalan-jalan. Namun godaan itu
tidak terbendung, ia pergi juga dan
pulang menjelang subuh dengan
kepuasan seks yang membuat hatinya
semakin sedih. Ia merasa, ia telah
bertindak lalim terhadap orangtuanya
yang sudah cukup tua, yang membiayai
kuliahnya dengan susah payah. Banyak
sekali uangnya habis di tempat
kesenangan itu. Kadang-kadang ia
sudah bertekad untuk tetap di
kamarnya. Tahu-tahu ia berdiri dan
memegang grendel pintu untuk pergi,
lalu sadar sehingga grendel dilepas
lagi kemudian duduk. Tak lama
kemudian ia berdiri, mendekati pintu,
membukanya, dan pergi lagi!
Demikianlah terjadi setiap saat.
Dalam hal itu ia sangat sulit
mengatasi pergumulannya. Terasa berat
sekali nas ini baginya. Tubuhnya
tidak menjadi senjata kebenaran,
tetapi menjadi senjata kelaliman
terhadap orangtuanya. Ia merasa
menjadi kejam, lalim dalam hidupnya.
Ia sering membayangkan orangtuanya
yang mengumpulkan uang
sedikit-sedikit agar bisa
menyekolahkan dia. Tetapi uang itu
terserap oleh kesenangan yang buruk.
Ia telah merugikan orangtuanya,
kekasihnya itu. Mungkin tidak hanya
dia. Mungkin banyak di antara kita
yang sedang bergulat dengan dua hal
yang dipertentangkan Roma 6 ini. Dan
mungkin ada yang berhasil, ada yang
masih sedang bergulat, dan ada yang
terus saja melakukannya tanpa
pergumulan lagi. Mungkin ada yang
menjadi lalim dan kejam terhadap
keluarganya terus menerus dengan
jalan berkhianat gara-gara pengaruh
kekuatan dosa.
Dalam hal itu firman ini mengingatkan
apa artinya kita dibaptiskan dalam
nama Kristus. Kita yang sudah
dibaptiskan, sudah ikut dikuburkan
bersama Dia, sehingga dosa ikut
terkubur. Lalu kita ikut dibangkitkan
bersama Dia, sehingga kita hidup
secara baru (baca ayat 3-4). Jadi
oleh usaha Kristuslah, kita dapat
berharap banyak. Mintalah
pertolongan-Nya, berdoalah, sebab
kita berada di bawah kasih karunia,
bukan di bawah Taurat (14). Jangan
berharap banyak pada usaha diri
sendiri sebab kita tidak berada di
bawah Taurat, hukum yang mendorong
usaha manusia. Tetapi mari kita
berharap pada usaha dan kekuatan
Kristus, karena kita berada di bawah
kasih karunia. Kekuatan kita harus
ditaruh
dalam kekuatan-Nya, maka kita akan
berhasil. Mungkin sekali mahasiswa
tadi terlalu berharap pada
kekuatannya, mengandalkan usahanya,
kemauan baiknya sendiri. Kalau ini
benar, maka itu adalah usaha yang
taurati, tidak injili. Injil berisi
kasih karunia. Kiranya kita berhasil
untuk hidup dalam kebenaran, menjadi
alat kebenaran karena sungguh-sungguh
bersandar pada kasih karunia Tuhan
Yesus Kristus. Amin.
|