Free Web Space | BlueHost Review  

kembali ke Lobby

PUSTAKA - SEJARAH

JESUS KE INDIA?
Napak Tilas Suku Israel yang “Hilang”, Agen Akulturasi Jalur Sutra.

Heri Muliono, M.Sc, Ir.

6 Juli 2001


Jesus ke India ?

Napak Tilas Suku Israel yang “Hilang”, Agen Akulturasi Jalur Sutra

Makala ini hanya garis besar informasi /pemikiran, bagian tak terpisahkan dari presentasi PowerPoint dalam Warteg-06/07/01

 

Bagian Pertama - Jesus di India ?


Jesus di Asia

Isyu Jesus di India mencakup dua hal, yaitu masa antara usia 13-29 tahun (terkenal sebagai “masa yang hilang”, The Lost Years), dan masa paska-penyaliban.

1.    Jesus di India dalam “masa yang hilang” menjadi isyu utama buku The Unknown Life of Jesus Christ, (Nicholas Notovitch, terjemahan V. Crispe, London: Hutchinson and Co., 1895), versi Inggris dari naskah pertama berbahasa Prancis. Thesis utamanya adalah bahwa pada usia 13-29 (terkenal sebagai tahun yang hilang) Jesus belajar dan mengajar di India. Lalu kembali lagi ke India paska-penyaliban. Hingga kini Ia dikenang sebagai Issa, Sang Buddha. Thesis Notovich berangkat dari naskah Tibet (transkripsi dari naskah bahasa Pali) yang disimpan di sebuah biara di Himis, Tibet. Terbitan Notovich menimbulkan kontroversi. Hingga kini belum pernah dilakukan pengujian terhadap naskah Pali atau Tibet yang disebutkan sebagai sumber tulisannya.

2.    Jesus di India dalam “masa paska-penyaliban” menjadi isyu utama Jesus in India, versi Inggris "Masih Hindustan Mein” sebuah naskah berbahasa Urdu karya pendiri gerakan Ahmadiyyah dalam Islam, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad (1835-1908). Thesis utamanya adalah bahwa Jesus tidak meninggal di kayu salib, lalu mengelana ke India untuk mencari suku Israel yang hilang, sesuai pernyataan-Nya dalam Injil: “Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” [Mat15:24]. Naskah “Jesus in India” dalam bentuk e-book dapat di-download dengan gratis dari:

http://www.geocities.com/Athens/Delphi/1340/jesus_in_india.htm  atau

http://iskcon.net/hk/download/jesusin.zip.

Hipotesis bahwa Jesus tidak wafat disalib adalah isyu lama, yang muncul sejak abad-18. Beberapa penulis isyu:

a.   Karl Bahrdt, ca. 1780, dalam The Historical Argument for the Resurrection of Jesus during the Deist Controversy (William Lane Craig, Lewiston, NY: Edwin Mellen Press, 1985)

b.   Karl Venturini, ca. 1800.

c.   Heinrich Paulus, 1828.

d.  Hazrat Mirza Ghulam Ahmad Jesus in India, Abad-19.

e.  Ernest Brougham Docker, If Jesus Did Not Die on the Cross: A Study of the Evidence (London: Robert Scott, 1920)

f.   Robert Graves & Joshua Podro, Jesus in Rome (London: Cassell & Co., 1957)

g.  Eduard A. Meier (Ed.) The Talmud of Jmmanuel (TJ), (Schmidrüti, Switzerland, 1978). Terjemahan naskah berbahasa Aram, temuan tahun 1963.

h.  J.D.M. Derrett, The Anastasis: The Resurrection of Jesus as an Historical Event (Shipston-on-Stour, England: P. Drinkwater, 1982)

i.   Barbara Thiering, Jesus and the Riddle of the Dead Sea Scrolls (San Francisco: HarperSanFrancisco, 1992)

Jesus di Asia dalam tradisi Hindu, Buddha, dan Islam

Jesus di India disebut-sebut dalam berbagai sumber atau tradisi Hindu, Buddha, dan Islam. Berikut beberapa di antaranya [tanpa catatan tentang pengujian kebenaran atau otentisitasnya]

TRADISI /NASKAH

SUMBER /TEMPAT

SEBUTAN

Jesus di Afghanistan /The Followers of Jesus

Tradisi lisan Afghanistan

Issa, son of Mariam of Nasara [Nazareth], the Kashmiri

Jesus di Asia / Grugtha Thams-chand kyi Khuna dan Dod-Thsul Ston-pe Legs Shad Shel-gyi Melong /terjemahan Lezan Chhes-kyi Nima [1802] dari naskah Cina “The History of Religion and Doctrines, the Glass Mirror”

Cina. Menurut Dr. Fida Hassnain dalam A Search for the Historical Jesus

San Issa, Yesu

Jesus di India /Bhavishya Maha Purana

(Hindu, naskah Purana ke 9)

Isa Masi/ Isa Masiha

Jesus di Kashmir /Rauzat-us-Safa (Rauzat us-Safa fi Sirat-ul-Ambia wal Muluk wal Khulafa /Gardens of Purity concerning the biography of the Prophets and Kings and Caliphs)

Naskah sejarah Persia, karya Mir Muhammad Bin Khawand (1417)

Messiah, pengelana

Jesus di Kashmir /Book of Balauhar and Budasaf

Buddha

Budasaf

Jesus di Kashmir /Ikmal-ud-Din (Kamal-ud Din wa Tmam-un Nimat fi Asbat-ul-Ghaibat wa Kashf-ul-Hairet),

Karya Al-Shaikh Al-Said-us-Sadiq Abi Jaffar Muhammad Ibn-i-Ali Ibn-i-Hussain Ibn-i-Musa Ibn-i-Baibuyah al-Qummi (Abad-10)

Yuz Asaf

Jesus di Kashmir /Qisa Shazada Yuzasaph wo hakim Balauhar (The Story of the Prince Yuzasaph and the Philosopher Balauhar)

Versi Urdu Ikmal-ul-Din

Yuz Asaf

Tonggak tanda di luar Roza Bal

Menurut Khwaja Azam Deddmari, dalam Tarikh-i-Azam [c.1729]

Yuz Asaf

Jejak kaki Jesus Kristus di RozaBal

Surat Maulwi Abdullah dalam Raz-i-Haqiqat atau 'Secret of the Truth' [1898]

Yuz Asaf

Jesus di Kashmir /Tarikh-i-Kashmir

Karya Mullah Nadri

Yuz Asaf, Yusu, Hazrat Isa

Jesus di Kashmir /Tarikh-i-Kashmir

Persia, karya n.n.

-

Makam Jesus di RozaBal/ Tarikh-i-Kabir Kashmir

Karya Haji Mohiuddin, Punyab, 1902

Yusu Asaph, Hazrat Isa (the Spirit of God)

Makam Jesus di Khanyar atau Rozabal, Kashmir /Wajees-ut-Tawarikh

Karya Abdul Nabi Khanyari atau Abdul Nabi atau Naba Shah atau Ghulam Nabi [1857]

Paigambar (Utusan Allah) Yuzu Asaf

Makam Jesus di Khanyar atau Rozabal, Kashmir /Bagh-i-Sulaiman (Garden of Solomon, Taman Solomo)

Karya Mir Saadullah Shahabadi Kashmiri [1780], sejarah Kashmir versi Persia.

Yuzu Asaph

Jesus adalah nabi untuk orang Kashmir /Official decree of the Grand Mufti of Kashmir

Dekrit resmi lembaga keagamaan (Islam) tertinggi di Kashmir [1774]

Yuzu-Asaph

Jesus di Taxilla, India /Acta Thomae

Apokrifa. Dicap bidat oleh Gelasius [495]

 

Jesus wafat pada usia lebih dari 50 tahun /Against Heresies

Iraneus, Againts Heresies, Chapter 22 –The thirty aeons are not typified by the fact that Christ was baptized in his thirtieth year: He did not suffer in the twelfth month after his baptism, but was more than fifty years old when He died.

 

Jesus di Kashmir /Takhat Sulaiman (Throne of Solomon, Singgasana Solomo)

Monumen di kuil dekat Danau Dal, Srinagar, Kashmir. Disebut Sankarachariya oleh Maharaja Hindu [1848]

Yuzu Asaph

Jesus di India /Negaris-Tan-i-Kashmir

Terjemahan Urdu dari naskah Persia

-

Seluruh sumber di atas menunjukkan bahwa kemanapun Jesus pergi (Judea, Afghanistan, Kashmir, Tibet, seperti terekam secara lisan maupun tertulis oleh orang-orang Jahudi atau Yunani, Cina, Afghan, Kashmir dan Buddhist Tibet), dengan nama apapun (Joshua, Jesus, Jesu, Issa, Yuzasaf, Budasaf, Hazrat Issa), Ia selalu meninggalkan kesan mendalam pada diri orang-orang yang bertemu dengan-Nya. Jesus tahu bahwa seluruh umat manusia terhubung oleh Keilahian yang sama dan Jesus menyampaikan pesan Keilahian yang sama kepada semua orang. Kemanapun pergi, Jesus memang selalu menemukan musuh (terutama dari kalangan pemimpin lembaga keagamaan). Itulah resiko bagi mereka yang berani menyuarakan kebenaran. Namun penolakan musuh-musuhnya kalah kuat dibandingkan gagasan keilahian yang disampaikan Jesus.

Q dan Jesus Sang Buddha, Sumber Injil

a.  Selama sekitar 16 atau 17 tahun, dalam “masa-yang-hilang” di India, Jesus disebut-sebut mempelajari Buddhisme dan Hinduisme. Beberapa ajaran-Nya dalam Injil memang mirip dengan ajaran Buddha dan Hindu. (kemiripan itu lebih terlihat pada Injil Tomas, yang ditemukan dalam Kepustakaan Nag-Hammadi, Mesir, 1945)

b.  Injil Matius, Markus, dan Lukas disebut Injil Sinoptik karena banyaknya persamaan di antara 3 Injil tersebut. Pada umumnya para ahli Alkitab mengatakan bahwa Injil Markus ditulis lebih awal dan menjadi sumber bagi penulis Injil Matius dan Lukas. Namun ternyata ada persamaan antara Injil Matius dengan Lukas, yang tidak terdapat dalam Injil Markus. Karenanya beberapa ahli berhipotesis bahwa ada sumber lain yang lazim disebut  ‘quelle’ (Jerman, sumber)dan disingkat Q. Hingga kini tidak diketahui keberadaan naskah Q.

c.  Beberapa ayat ‘Q’ memiliki persamaan dengan ayat dalam naskah Buddhis dan Hindu. Beberapa di antaranya tersaji di bawah (Dhammapada = [Dh]; Undanavarga = [Ud])

NASKAH INDIA (Buddhis/Hindu)

Quelle

Judge not the mistakes of others, neither what they do or leave undone, but judge your own deeds, the just and the unjust (Dh 271-272)

Mat7:1-5; Luk6:37

No matter what a man does, whether his deeds serve virtue or vice, nothing lacks importance. All actions bear a kind of fruit (Ud 9:8).

Mat7:16-20

O Vasettha, those Brahmins who know the three Vedas are just like a line of blind men tied together where the first sees nothing, the middle man nothing, and the last sees nothing (Tevijja-Sutta, Dighanikaya, 13:15).

Mat15:14; Mat10:24-25; Luk6:39-20

In this world the wise man holds onto faith and wisdom. Those are his greatest treasures; all other riches he pushes aside (Ud 10:9).

Mat6:20; Luk12:33

People must store up reserves of faith since merits cannot be taken away and no one need fear thieves. Happy are the disciples who have gained faith, and happy is the wise man when he meets such a believer (Ud 10:11)

Mat6:19-21; Luk12:33-34

One way leads to worldly gain and the other to Nirvana. Let the mendicant monk, the Buddha's pupil, seek wisdom, not worldly honors. (Dh 5:16)

Mat6:24; Luk16:13

Better than reigning supreme over the earth, better than ruling heaven, better than dominating all worlds, is the reward of the sotopatti way (Dh 13:12)

Mat16:26; Luk9:25

The blind saw and the deaf could hear...The ill were healed. The hunger and thirst of the deprived were stilled. Drunkenness was taken away from the drunken. The made regained reason. The blind could see again, and the deaf hear (Lalitavistara VII).

Mat11:4-5 [Yes35:5-6, Yes61:1]

You fool! Of what use are your long locks? Of what use your clothing of hides? Within yourself darkness is at home. Only outwardly you clean yourself (Ud 33:8)

Of what use is your matted hair, O fool! Of what use your clothes made of animal hides? Within yourself is a jungle, but outwardly you adorn yourself (Dh 26:12).

Mat23:25-27

Those who aspire are ever striving; they do not stay in one place. Like swans leaving a lake, they move from house to house. The only source of refuge for those who do not accumulate possessions and are careful about what they eat is unconditional freedom, knowing as they do the void of transience. Their way is difficult to follow like that of birds in the sky. (Dh 7:2-3)

Whosoever has laid aside human ties, leaving behind the powers of attraction of the gods, free of all bonds, that man I call holy (Ud 33:52).

Mat8:19-22; Luk9:57-62

(Buddha had withdrawn to a forest hut at Kosala in the Himalayas for solitary reflection.) Then Masra, The Evil One, knew the thought that had arisen in the Enlightened One, so he went to the Buddha: 'O Lord, may the Enlightened One reign as King, may the Perfected One reign with justice, without killing or ordering killings, without being oppressive or serving oppression, without suffering from pain or causing pain to others.' The Buddha answered: "What doest though have in mind, O Evil One, that thou speakest thus with me?' Mara responded: 'The Enlightened One, O Lord, has assumed the fourfold might of miracles. If the Enlightened One so wished, he could command the Himalayas, the king of mountains, to become gold, and the mountain would become gold.' The Buddha turned him away: 'What would it help the wise man to own a mountain of gold or silver? Whosoever has recognized the cause of suffering, how should he succumb to desires?' Then replied Mara, the Evil One: 'The Enlightened One knows me, the Perfected One knows me,' and, grieved and discontented, he went away. (Marasamyutta from the Samyuttanikaya II 10).

Mat4:1-11; Mar1:12-13; Luk4:1-13

Pernyataan yang mengkaitkan ajaran Jesus dengan Buddhisme biasanya langsung disanggah dengan dua argumen.

a. Adanya perbedaan konsep ketuhanan. Jesus mengajarkan konsep tuhan yang berpribadi (Ia menyebutnya Abba, Bapa, ‘daddy’), Buddhisme tidak mengajarkan konsep ketuhanan yang berpribadi. (Sesungguhnya Buddhisme mengenal konsep ketuhanan, paling tidak di masa awal perkembangannya, seperti ternyata dari Edik Ashoka (Abad-3SM) pada kalimatConfess and believe in God (Is'ana) who is the worthy object of obedience".

b. Jesus tidak mengajarkan konsep yang melulu asketis, berbeda dengan Buddhisme yang mengutamakan pencerahan dan pencapaian nirvana pribadi. (Memang aliran Buddhisme di Selatan (Hinayana) yang merambah Asia Tenggara dan Srilanka, lebih menekankan asketisme, namun Buddhisme di Utara (Mahayana) yang menyebar ke Cina mengembangkan asketisme sejajar dengan kehidupan duniawi).

Kemiripan antara ajaran Jesus dengan Siddharta terlihat juga dari praktek kehidupan komunal. Para pengikut diminta menjual seluruh hartanya dan bergabung dalam suatu komunitas. Kehidupan komunal (termasuk makan bersama) semacam ini tidak hanya dipraktekkan oleh Jesus dan Siddharta, tetapi juga oleh kelompok Qumran (dekat Laut Mati, Palestina) dan Therapeutae (dekat Alexandria, Mesir) pada jaman Jesus. Kemungkinan besar mereka sama-sama merupakan sub-sekte Esseni, yang meneruskan tradisi komunal Pythagorean.

Benarkah Jesus ke India untuk mempelajari Buddhisme dan Hinduisme ? Mungkinkah melakukan perjalanan dari Judea ke India di jaman itu? Darimana Jesus tahu ada agama besar (Hindu dan Buddha) di India ?


Jesus ke India?

(Napak Tilas Suku Israel yang “Hilang”, Agen Akulturasi Jalur Sutra)

Bagian Dua – Jahudi Diaspora, Agen Akulturasi


Sejarah mencatat kebudayaan besar manusia mulai berkembang serentak di hanya 4 tempat, sekitar tahun 4000SM. Seluruhnya berada di tepi sungai besar: Nil (Mesir), Efrat dan Tigris (Mesopotamia), Indus, sekitar perbatasan Pakistan-India (Harappa) dan Yang-tze (Cina). Di antara kawasan yang satu dengan yang lain terbentang kawasan lain yang luas, sehingga empat kawasan budaya tersebut terpisah jarak cukup jauh. Jika di antara kebudayaan tersebut terdapat interaksi, maka pasti melibatkan kawasan di antaranya (Israel di antara Mesir dan Mesopotamia, Persia di antara Mesopotamia dan India terdapat, Taklimakan di antara India dan Cina).

1.    Di masa kuno, perdagangan internasional (antar kawasan, antar negara, antar kekaisaran) adalah salah satu medium yang efektif menjadi agen interaksi budaya.

2.    Di awal Milenium-1 Sebelum Masehi, Kerajaan Israel, sekitar masa Raja Solomo [961-922], telah aktif menjadi penghubung Mesir dengan Mesopotamia, bahkan lebih luas lagi dengan Asia, karena kestrategisan posisi geografis wilayahnya. Beberapa bagian Alkitab mengindikasikan hubungan dagang tersebut, ternyata misalnya dari telah dikenalnya narwastu [Kid1:12; 4:13-14; Mar14:3; Yoh12:3].

3.  Di paruh kedua Milenium-1 Sebelum Masehi, Persia dan Taklimakan menjadi kawasan penghubung efektif antara Kawasan Asia Timur Jauh dengan India dan Cina, karena kestrategisan posisi peniaga Jahudi Diaspora.

4.  Di paruh kedua Milenium-1SM, India (Ashoka, Raja Dinasti Maurya) telah mengirim utusan hingga ke Mesir (Ptolomeus II), seperti tertera pada Edik Batu XIII.

Kawasan Mesir, Mesopotamia, Persia, India, Taklimakan, dan Cina terhubungkan oleh jalur perdagangan yang terkenal sebagai Jalur Sutra (Jalur Sutra, Koridor Budaya Timur-Barat). Di sepanjang jalur kegiatan perniagaan sangat diwarnai oleh peran Jahudi Diaspora. Semua temuan yang mengindikasikan telah terjadinya kontak budaya di masa kuno, berasal dari masa dan setelah Diaspora pertama [721SM]. Adakah hubungan antara penyebaran orang-orang Jahudi ke berbagai penjuru dunia dengan kontak budaya tersebut? Indikasi kontak antara budaya timur dengan barat di paruh pertama Milenium-1SM dapat dikatakan ada, jika didapati bahwa

1.    migrasi di sepanjang Jalur Sutra, terutama di Kawasan Taklimakan yang terkenal sangat gersang dan sulit dilalui, telah terjadi pada atau sebelum paruh pertama Milenium-1SM,

2.    terdapat artefak di kawasan Timur yang berasal dari atau diproduksi di Barat, atau sebaliknya, dari masa paruh pertama Milenium-1SM,

3.    Jahudi berperan dalam migrasi dan artefak tersebut di atas.

Ternyata ada bukti bahwa:

1.    migrasi dari Barat ke Taklimakan telah berlangsung di sekitar awal Milenium-1 SM, sebagaimana terungkap dalam penemuan Mummi Kaukasian [1978] berumur sekitar 3,000 tahun di Danau Lap Nor, Lembah Tarim, Xinjiang, Cina. (Mummi Kaukasian Lembah Tarim)

2.    ada sutra pada mummi dari masa Dinasti Mesir ke-21 [tahun 1070SM], padahal saat itu hanya Cina yang bisa membuat sutra (Sutra Kuno Mummi Mesir). Ada manik-manik kaca di kuburan Abad-5SM di Luo-yang, Henan, Cina, padahal Cina belum mampu memproduksi kaca, yang saat itu hanya diproduksi di Israel. (Manik-manik Kaca Makam Luo-yang)

3.    jejak Jahudi Diaspora tersebar mulai dari Babylonia, Persia, Kashmir (India), hingga Cina, bahkan Jepang. (Tilas Jahudi di Sepanjang Jalur Sutra).

Kemunculan semua agama besar terjadi setelah Diaspora Jahudi pertama, di Persia [Zoroaster, c.630-553SM], India [Jainisme, Mahavira c.599-527SM dan Buddha, Siddharta Gautama c.560-480SM), Cina [Tao, Lao-tze c.604-521SM dan Confusius c.551-479SM] dan Jepang [Shinto, setelah Abad-5SM]. Era filsafat Yunani dimulai setelah Diaspora, Thales Miletus [585SM], Anaximender dan Anaximenes [c.611-545SM], dan terutama Pythagoras [c.569-475SM] yang berpengaruh terhadap pertumbuhan beberapa sekte Jahudi. Adakah hubungan antara Disapora Jahudi ke berbagai penjuru dunia dengan pertumbuhan agama-agama tersebut? Indikator adanya peran Jahudi dalam pertumbuhan agama tersebut dapat dikatakan ada jika terdapat elemen unik Jahudi dalam unsur agama bersangkutan. Ternyata ada beberapa petunjuk awal adanya indikasi itu, seperti ternyata dalam Buddha (Edik Raja Ashoka, India), Shinto (Ontohsoi -Suwa-Taisha- dan lain-lain), Tao dan Confusius (Pernik Upacara). Pemikiran ini memerlukan kajian lanjutan.

Jalur Sutra, Koridor Budaya Timur-Barat

Pendahuluan

Jalur Sutra adalah nama yang diberikan seorang Jerman bernama von Richthofen pada Abad-18M, untuk jalur darat yang menghubungkan Cina dengan Eropa. Sekalipun baru dibuka resmi pada Abad-3SM, di masa Dinasti Han yang mulai mengirim utusan ke berbagai negara Asia Selatan dan Timur Tengah, namun Jalur Sutra sudah ada jauh sebelumnya. Jalur Sutra terdiri dari banyak jalur yang bercabang-cabang, dan digunakan untuk perdagangan berbagai komoditi selain sutra seperti gading, tanaman, emas. Secara garis besar terdapat tiga jalur, di utara, tengah dan selatan. Jalur Utara menghubungkan Cina dengan Eropa hingga Laut Mati, melalui Urumqi dan Lembah Fergana. Jalur Tengah menghubungkan Cina dengan Eropa hingga tepian Laut Meditrrannia, melalui Dun-huang, Kocha, Kashgar, menuju Persia. Jalur Selatan menghubungkan Cina dengan Afghanistan, Iran dan India, melalui Dun-huang dan Khotan menuju Bachtra dan Kashmir. Di Cina, Jalur Sutra berujung di Changan atau Xian, ibukota kerajaan, ke arah barat melewati koridor Gansu, menuju Dun-huang di sisi Gurun Taklimakan. Jalur utara mulai dari Dun-huang dan Yu-men Guan, menyeberangi Gurun Gobi menuju Hami (Kumul), lalu menyisir kaki Tian-shan di bagian utara Taklimakan. Setelah oasis Turfan, menuju Urumqi dan Lembah Fergana untuk masuk Eropa hingga Laut Mati. Jalur ini bercabang di Turfan, ke oasis Kucha, menuju Kashgar di kaki Pamirs. Jalur selatan mulai Dun-huang, melewati Yang Guan,  menyusuri sisi selatan Taklimakan, melalui Miran, Hetian (Khotan) dan Shache (Yarkand), menuju utara lalu menuju Kashgar. Masih ada beberapa cabang jalur, salah satunya bercabang dari jalur selatan menuju sisi timur Gurun Taklimakan ke kota Loulan, lalu bergabung dengan jalur utara di Korla. Dari Kashgar yang simpang lalulintas Asia, ada jalur menyeberangi Pamirs menuju Samarkand dan menuju selatan ke Laut Kaspia; atau jalur ke selatan melewati Karakorum menuju India; dan sebuah jalur lain menuju Kuqa, menyeberangi Tian-shan, menuju Laut Kaspia melalui Tashkent.

Taklimakan

Kawasan Gurun Taklimakan (Tanah Maut) yang memisahkan Eropa dengan Asia adalah salah satu kawasan paling tidak ramah di dunia. Hanya ada sedikit sekali tetumbuhan, hampir tidak ada curah hujan (kurang dari 100mm/tahun), sering diterpa badai pasir dengan kekuatan angin yang besar; dan menelan banyak korban jiwa. Gurun Taklimakan mencakup kawasan yang sangat luas dengan hanya sedikit jalan yang menghubungkan oasis-oasis yang terpencil. Iklimnya sangat jelek, pada musim panas suhu rata-rata harian 40an0C dengan suhu maksimal lebih dari 500C seperti sering tercatat di Turfan. Di siang hari suhu sangat tinggi dan tiba-tiba turun di senja hari. Di musim dingin suhu bahkan bisa turun hingga -200C. Gurun Taklimakan sangat gersang, tidak seperti Gurun Gobi yang memiliki banyak oasis, dan masih menyediakan air tidak jauh di bawah permukaan tanah. Kawasan di seputar Taklimakan tidak kalah menyulitkan. Di utara terletak Gurun Gobi dengan iklim mirip dengan Taklimakan, di tiga sisi lain terletak pegunungan tertinggi di dunia. Di selatan terletak pegunungan Himalaya, Karakoum dan Kunlun yang menjadi pemisah alamiah kawasan Asia Tengah dengan India. Di kawasan pegunungan ini hanya terdapat beberapa  celah penghubung dua kawasan. Setiap celah sangat berbahaya, bersalju, di ketinggian sekitar 5,000 meter, dengan jurang di sisi. Di utara dan barat membentang pegunungan Tianshan dan Pamir, yang meskipun berketinggian lebih rendah dan bertetumbuhan, namun tetap menimbulkan masalah besar bagi pelintas masa dulu. Dari timur menuju Taklimakan, tersedia jalur Gansu, yang relatif paling mudah, di kaki pegunungan Qilian, pemisah Dataran Mongolia dan Gurun Gobi dengan Dataran Tinggi Tibet. Dari selatan dan barat, tidak ada pilihan lain, harus melalui celah yang ada.

Artefak Dun-huang, Xinjiang (Cina)

Berbeda dengan namanya, komoditi terpenting Jalur Sutra bukanlah sutra, tetapi agama. Buddhisme datang dari India ke Cina melalui jalur ini. Di sepanjang jalur terdapat artefak yang menunjukkan perkembangan Buddhisme bersama dengan berbagai kebudayaan dari etnis non-Asia, sebelum mencapai Cina. Pada tahun 1900, 1906 dan 1913, Sir Marc Aurel Stein (1862-1943) dari Hungaria, melakukan ekspedisi ke kawasan Turkestan Cina (kini disebut Sinkiang, Xinjiang, atau Uighur Autonomous Region). Ia membukukan kisah ekspedisinya dalam buku "Sand Buried Ruins Of Khotan" (1903), “Serindia” (1921), dan “Innermost Asia” (1927). Periode barang temuan ekspedisinya terentang mulai dari peralatan batu jaman Neolitik hingga kuburan dan tekstil abad-8M. Di dekat Dun-huang ia menemukan Gua Seribu Buddha (The Cave of the Thousand Buddhas), yang kaya dengan lukisan dinding, panji-panji kuil, dan dokumen (kini, sebagian besar tersimpan di Asian Antiquities Museum, New Delhi). Salah satu dokumen berupa surat niaga dan doa berbahasa Jahudi dari kertas dengan tulisan berhuruf Ibrani. Saat itu kertas belum dikenal dunia Barat, penemuannya mengindikasikan arus pengelana dari Timur ke Barat.

Temuan-temuan arkeologis di sepanjang Jalur Sutra di Kawasan Gurun Taklimakan, menjadi bukti telah terjadinya arus migrasi dan mobilitas di sepanjnag jalur, jauh sebelum Dinasti Han membuka resmi jalur tersebut.

Mummi kaukasian Lembah Tarim

Pada tahun 1978, Wang Binghua, seorang ahli arkeologi, menjadi penemu mumi pertama di Qizilchoqa, sebelah timur Urumqi, ibukota Xinjiang (Uyghur Autonomous Region). Namun baru pada tahun 1995, atas upaya Victor Mair, Professor Sastra China Universitas Pennsylvania, penemuan ini (dan penemuan-penemuan selanjutnya) memasyarakat. Mummi Lembah Tarim tidak sama jenisnya dengan mummi Mesir yang terjadi sebagai hasil proses mummifikasi (pembalseman mayat) oleh manusia. Mummi Lembah Tarim terbentuk karena proses alam Gurun Taklimakan yang bersuhu ekstrem (-20 ~ +50oC), bercurah-hujan minim (kurang dari 100 mm per tahun), dengan tanah berkandungan garam tinggi, sehingga lebih tepat disebut “pengawetan mayat”. Proses pengawetan alam ini ternyata memberi hasil luarbiasa. Dengan hanya sekali pandang ke foto wajah mummi yang ditemukan, orang bisa menyimpulkan bahwa mummi Lembah Tarim bukan orang Asia. Mummi itu memiliki tulang hidung panjang, dahi tinggi, rambut coklat dan merah (tanpa menimbang kain yang mereka kenakan, yang bermotif kotak-kotak dengan warna-warni terang dan sangat berkesan Eropa).

Sekelompok ahli genetika di bawah pimpinan Paolo Francalacci, ahli genetika Institut Antropologi Universitas Sassari, Italia, mendapat kesempatan meneliti 25 contoh yang diambil dari 11 mummi yang ditemukan di Hami, Xinjiang.  Hasil penelitian terhadap 5 (lima) contoh yang diberikan ternyata memberi bukti bahwa mummi tersebut dari etnis yang berasal dari Barat dan sekitar Laut Mediteranea.

Han Kang-xin, seorang ahli antropologi fisik Akedemi Ilmu Sosial Cina di Beijing, melakukan penelitian dengan teknik lain (pengujian tengkorak kepala) untuk mencoba mengetahui asal-usul para mummi. Ia meneliti ratusan tengkorak mummi yang ditemukan di kawasan Xinjiang dan berkesimpulan bahwa mayoritas mummi penghuni Lembah Tarim mulai dari Abad-18SM hingga beberapa abad terakhir ini adalah dari ras Kaukasian, dari berbagai sub-ras (Nordik, Mediteranean, Andronovo). Di samping mereka terdapat kelompok etnis lain seperti Mongolia.

Konch Darya- 70 km di barat Lop Nor

18 tengkorak dari dua masa

European dengan ciri Nordik. Tengkorak kepala dari masa paling awal mirip dengan kultur Afansievo (Millenium3-SM). Tengkorak kepala dari masa lebih kemudian mirip Nordik dan Meditteranean Timur. Tengkorak kepala dari masa lebih akhir mirip dengan kultur Andronovo (Millenium-2SM).

Hami

29 tengkorak dewasa

21 bertipe Mongloids Asia Timur, 8 bertipe Kaukasian seperti di atas. Keduanya menggunakan cara pemakaman dan pakaian sejenis.

Monghol Kora, Lembah Sungai Tekes, Pegunungan Tian-San)

11  tengkorak

Seluruhnya bertipe European, dari masa 400SM-200M

10 bertipe brachycephalic (lebar dan pendek) 

1 bertipe mesocephalic (berukuran sedang)

Sampul, Lop Nor

56 tengkorak

200SM, bertipe Kaukasian Meditteranean Timur

Loulan

6 tengkorak

5 bertipe Kaukasian dengan pola Indo-Afghan.

Mummi Kaukasian Lembah Tarim menjadi bukti bahwa migrasi dari Barat ke kawasan Taklimakan telah berlangsung, paling tidak, sejak Millenium-2SM. Migrasi ini memberi petunjuk telah adanya jalur penghubung antara Barat dengan Timur, jauh sebelum Jalur Sutra dibuka secara resmi pada masa Dinasti Han [Abad-3SM].

Sutra MUMMi kuno Mesir

Asal-usul Sutra dan Perkembangan Sutra di Cina

Legenda Cina memberi gelar Dewi Sutra kepada Putri Hsi-Ling-Shih, istri Kaisar Kuning yang mistis, yang disebut memerintah Cina sekitar tahun 3000SM. Putri Hsi-Ling-Shih dianggap berjasa memperkenalkan ulat sutra dan cara pengembakbiakannya. Pada tahun 1927 ditemukan kepompong ulat sutra dari masa 2600-2300SM di bantaran Sungai Huangho, Propinsi Shanxi, Cina sebelah utara. Di Qianshanyang, Propinsi Zhejiang ditemukan pita, serat sutra, dan perca, dari masa sekitar tahun 2000SM. Di bagian hilir Sungai Yang-tze bahkan ditemukan sebuah cangkir kecil dari gading bermotif-hias ulat sutra, alat tenun, serat sutra dan perca dari masa antara 6000-7000SM.

Pada awalnya sutra hanya boleh digunakan di kalangan istana (raja, kerabat dekat, pejabat tinggi). Di dalam istana, kaisar mengenakan jubah sutra putih, di luar istana kaisar dan permaisurinya mengenakan jubah sutra kuning. Pada Abad-5SM, paling tidak terdapat enam propinsi Cina penghasil sutra. Setiap musim semi, Permaisuri memimpin langsung upacara pembuatan sutra. Kerahasiaan teknik dan proses pembuatan sutra dijaga ketat oleh kerajaan. Barangsiapa membuka rahasia, atau menyelundupkan telur atau kepompong sutra ke luar Cina, akan dihukum mati. Secara bertahap produksi kain sutra menjadi industri dan elemen penting ekonomi Cina, sutra digunakan sebagai instrumen musik, tali pancing, tali busur panah, tali pengikat, dan kertas tulis. Akhirnya orang kebanyakanpun boleh mengenakan pakaian sutra. Pada masa Dinasti Han [206SM-220M] sutra tidak lagi sekedar produk industri atau barang dagangan. Petani membayar pajak dengan beras dan sutra, pegawai menerima gaji dan hadiah sutra..

Perdagangan Sutra

Sutra menjadi komoditi perdagangan internasional Cina yang sangat berharga antara. Perdagangan sutra telah terjadi jauh sebelum Jalur Sutra dibuka resmi pada Abad-3SM. Di desa Deir el Medina dekat Thebes,  Lembah Raja-raja, Mesir, situs makam para pekerja raja Mesir, ditemukan mummi seorang wanita berusia antara 30-50 tahun. Mummi tersebut mengenakan sutra. Berdasarkan data anthropologis, metode mummifikasi, keadaan makam dan ‘amino-acid racemization’, mummi tersebut dinyatakan berasal dari sekitar tahun 1070, masa Dinasti Ke-21! [G.Lubec, J. Holaubek, C. Feldl, B. Lubec, E. Strouhal. NATURE, March 4, 1993]. Sebelum temuan ini, tercatat bahwa sutra digunakan di Mesir pada masa Dinasti Ptolomeik (sekitar Abad-3), termasuk Cleopatra.

Pada Abad-4SM, orang-orang Yunani dan Roma mulai berbicara tentang Seres, Kerajaan Sutra. Beberapa sejarawan menceritakan bahwa pasukan Marcus Licinius Crassus, Gubernur Siria, adalah orang Romawi pertama yang matanya silau (dalam arti sebenarnya) karena sutra. Dalam pertempuran Carrhae dekat Sungai Efrat, tahun 53SM, para serdadu Romawi panik karena mata mereka silau oleh kilauan sutra rompi pelindung serdadu Partian. Dalam waktu satu dasawarsa sutra Cina menjadi pakaian eksklusif elit Roma (seluruh pakaian Kaisar Heliogabalus [218-222] terbuat dari sutra), tapi segera meluas ke berbagai lapisan masyarakat, bahkan yang terendah, seperti dicatat Marcellinus Ammianus, tahun 380. Permintaan sutra semakin meningkat, sehingga harga sutra di Roma sangat tinggi (sepotong sutra dari jenis terbaik berharga 300 denarii, senilai gaji setahun prajurit Romawi). Banyak sumber menyatakan bahwa permintaan tinggi sutra impor telah merusak sendi-sendi ekonomi Romawi.

Pada Abad-2SM, duta Kaisar Wu-Ti dari Dinasti Han mengunjungi Persia dan Mesopotamia, membawa berbagai hadiah, termasuk sutra. Kejayaan sutra dan Jalur Sutra berlanjut di masa Dinasti Tang [618-907], seperti terbukti dari banyak penemuan arkeologis (penemuan Aurel Stein tahun 1907 adalah salah satu yang paling dramatis). Stein menemukan lebih dari 10,000 naskah, berbagai lukisan, kain dan panji sutra di sebuah ruangan di Gua Seribu Buddha, dekat Dunhuang, sebuah tempat perhentian di sebelah baratlaut Gansu. Artefak itu adalah barang yang disembunyikan para biarawan Buddhis karena adanya sinyal serangan suku Tangut dari Tibet, sekitar tahun 1015.

Manik-manik Kaca Makam Luo-yang

Manik-manik Kaca

Pada Abad-5SM (1,700 tahun sebelum Marcopolo meninggalkan Venice menuju Cina) para pedagang Jahudi-Persia telah merambah jalan dari Timur Dekat ke Kaifeng, hingga ke Kanton, ibukota Kekaisaran Cina. Bukti terawal tonggak sejarah ini ditemukan di makam abad-5SM di Luoyang, Propinsi Henan, Cina (Luo-yang adalah ibukota Dinasti Zhou Timur, 770-256SM). Di antara benda-benda yang ditemukan di dalam kuburan, terdapat biji tasbih dari manik-manik kaca yang dikenakan pada mayat. Pada abad-5SM, orang Cina belum memiliki teknologi pembuatan kaca (C.G.Seligman, "Early Chinese Glass" 1940-41, 20-2). Teknik dan komposisi “tasbih-mata” yang ditemukan di Cina mirip dengan yang diperdagangkan di seluruh Eurasia beberapa abad terakhir Sebelum Masehi, karena kesamaan asalnya: yaitu Timur-Dekat. (C.G.Seligman and H.C.Beck, "Far Eastern Glass; Some Western Origins," The Bulletin of the Museum of Far Eastern Antiquities, No. 10, Stockholm, 1838).

Biji tasbih yang ditemukan, sejenis dengan yang dibuat di Eretz Israel, Israel. Biji tasbih itu dihias dengan kaca berwarna bermotif cincin konsentrik yang disebut “tasbih-mata” (eye-beads). Produk ini terdistribusikan di sekitar Laut Mediterranean oleh pelaut Kanaan (Funisia). [Samuel Kurinsky, “TheGlassmaker, An Odyssey of The Jews. The first Three Thousand Years”. New York, 1991]

Perdagangan Jalur Sutra

Selama satu milenium berikutnya, produk gelas Jahudi dan kain linen menjadi barang dagang utama yang dipertukarkan dengan sutra dan rempah dari Cina dan India. Kayumanis (cinnamon), cassia (kulit kayu bahan pembuat kayumanis), jade, kamper, dan produk Cina lainnya memiliki pasar yang bagus di Barat. Rujukan terawal dalam naskah tentang produk dari Asia Timur (cinnamon dan cassia), terdapat di Kel30:23: Musa diperintahkan untuk mengambil "rempah-rempah pilihan, mur tetesan limaratus syikal, dan kayu teja (kayumanis) yang harum (kinamon besem) setengah dari itu". Dalam Kel.30:24 disebutkan bahwa Musa diperintahkan untuk mengambil "kayu teja (kayumanis, cassia, kiddah) lima ratus syikal". Dalam naskah Mishnah, seorang tokoh halakah Rabbi Chiyya bar Abba disebut sebagai salah seorang peniaga Timur-Dekat, yang memperdagangkan tiga barang dagangan utama di sepanjang jalur ke Cina, yaitu: barang-barang dari kaca, rami halus, dan linen.Herodotus (485-425SM) menyatakan bahwa kata Yunani kinnamomon berasal dari Kanaan (3.111). Begitu pula kata yang digunakan dalam Kitab Keluaran untuk cassia, kiddah, muncul dalam bahasa Yunani menjadi Kitto. Kata lain dalam Alkitab kes’iah (Maz45.9), menjadi kata Yunani Kasia. Transkripsi kata Aram ke bahasa Yunani  menunjukkan bahwa para pedaganglah yang pertama kali membawa rempah tersebut dari abad-5SM dari Asia Timur ke Kawasan Mediterranean sebagai barang dagangan. Sebuah manuskrip Latin abad-4, Descriptus Orbis, menyebutkan Beth Shean sebagai sebuah kota pemasok kain bagi seluruh dunia. Keunggulan tekstil dan pakaian yang diproduksi kalangan Jahudi Beth Shean juga diakui oleh Kaisar Romawi Diocletian. Pada tahun 296 Diocletian menerbitkan dekrit yang menetapkan patokan harga dan upah di seluruh kekaisaran Romawi, produk tekstil Beth Sean menduduki tempat teratas. Untuk produk kaca, dekrit itu hanya mendaftar dua jenis saja, yaitu vitri Ijudaici (barang produk kaca Jahudi) dan vitri Alessandrini (barang produk kaca Alexandria). Kaisar Romawi lain, Hadrian, menyatakan bahwa Jahudi adalah produsen kaca Alexandria. Kedua hal ini menyatakan Jahudi adalah produsen kaca kelas dunia di masa Romawi. Aurel Stein menemukan berbagai serpihan kaca kepingan di berbagai situs di sepanjang Jalur Sutra di Kawasan Xinjiang Cina. Stein juga menemukan berbagai jenis naskah yang ditulis pada kertas atau kayu, dalam berbagai bahasa termasuk Aram. [Marc Aurel Stein, Serindia, Oxford, 1921, 64, plate 37; Central Asian Relics of China's Ancient Silk Route, Hirth Anniversary Vol. 1921, 368, 374; "A Journal of Geographical and Archaeological Exploration in Chinese Turkestan," The Geographical Journal, 1902; Sand-buried Ruins of Khotan, London, 1903; On Ancient Central Asian Tracks, 1933]

Tilas Jahudi di sepanjang Jalur Sutra

Sepuluh Suku Israel Yang Hilang

Pada tahun 721SM Samaria, ibukota Kerajaan Israel (Israel Utara), jatuh karena serangan pasukan Asyur (Assyria). Banyak orang Jahudi dibuang ke Asyur, dan terjadi diaspora (penyebaran) suku-suku Jahudi, penduduk Kerajaan Israel, ke berbagai penjuru (Ruben, Simeon, Lewi, Isakhar, Zebulon, Dan, Yusuf, Naftali, Gad, Asyer). Kekuatan bangsa-bangsa kuat saling beradu memperebutkan hegemoni kawasan Timur Tengah. Kejayaan bangsa Asyur diganti oleh bangsa Babel (Babylonia), tahun 603SM. Di masa kejayaan Babel, Kerajaan Jehuda (Israel Selatan) jatuh, Jerusalem dihancurkan (587SM), dan berlangsunglah masa pembuangan di Babel. Kerajaan Persia (538-332SM) merebut hegemoni Babel. Sebagian orang Jahudi, terutama suku Jehuda dan Benyamin, kembali ke Judea. Namun 10 suku lain, penduduk Kerajaan Israel, tidak pernah mengalami repatriasi sebagaimana dua suku itu.

Beberapa raja Persia tersebut dalam Alkitab, yaitu Cyrius (Koresy, Yes45:1); Xerxes (Ahasyweros, Est1:1); Artexerxes (Artahsasta, Neh2:1) dan Darius (Dan6:1). Kejayaan Persia selama 3 abad di seluruh kawasan Timur Tengah, Timur Dekat, dan seputar Mediterania bagian timur melahirkan bahasa Aram sebagai ‘lingua franca’ dan memudahkan migrasi. Masa Persia berakhir ketika Aleksander Agung, dalam waktu relatif singkat menguasai kawasan Makedonia hingga India. Kawasan kekuasaan dinasti-dinasti Yunani (332-167SM) yang lebih luas dari Persia, semakin memudahkan migrasi. Suku-suku Israel meninggalkan Asyur, menuju ke timur, setelah itu tidak ada lagi berita, sehingga mereka dijuluki sebagai “Sepuluh Suku Israel Yang Hilang“ (The Ten Lost Tribes of Israel). Masa Yunani membuat bahasa Yunani menjadi ‘lingua franca’.

Kronologi Israel

1020SM                Kerajaan Israel berdiri. Dipimpin 3 raja: Saul [1020-1000], Daud [1000-961], dan Solomo [961-922].

922SM                  Sepeninggal Raja Solomo, Israel terpecah dua: Israel (Utara) dengan raja Jerobeam [922-901] hingga Hoshea [732-724] dan Jehuda (Selatan) dengan raja Rehobeam [922-915] hingga Zedekia [597-587].

721SM                  Samaria, Ibukota Kerajaan Israel (Israel Utara) jatuh ke tangan Assyria (Asyur). Diaspora 10 suku Israel berawal di Assyria. 630SM – Assyria jatuh ke tangan Babylonia, Raja Nabopolassas [630-605SM]

587SM                  Jerusalem, Ibukota Judea jatuh dan Bait Allah Pertama hancur karena serbuan Nebuchadnezar II [605-561],  Babylonia. Diaspora 2 suku Israel (Jehuda dan Benyamin) ke Babylonia dan kawasan sekitar Judea. 539SM Babylonia jatuh ke tangan Persia, Cyrus [559-530SM], disusul kembalinya sebagian bangsa Israel ke Judea. Pada masa keemasan Persia bahasa Aram menjadi ‘lingua franca’. Setelah Persia jatuh ke tangan Alexander Agung [334-323], Yunani, berlangsung masa keemasan Yunani, bahasa Yunani sebagai ‘lingua franca’

Kronologi Dunia

[c.630-553SM]    Zoroaster, Zarathustra, (Herat, Afghanistan)

[c.604-521SM]    Lao Tzu, manuskrip ‘Tao Te Ching’ (The Way and Its Virtue) diperkirakan muncul abad-4SM

[c.599-527SM]    Mahavira, asketik, pendiri Jainisme di India Utara, dan para Tirthankara (orang suci), mengajarkan bahwa penyangkalan dan anti-kekerasan (renunciation and non-violence) adalah jalan keselamatan bagi seluruh makhluk di muka bumi yang terikat oleh karma (akibat kehidupan masa lalu). Setelah kematiannya, Gerakan Jain menyebar ke Selatan, dan berjaya di abad-abad awal Masehi. Kebangkitan Hindu abad-7~10 melemahkannya, kini hanya ada sekitar 50,000 Jainis di negara bagian Tamil Nadu, India.

[c.569-475SM]    Pythagoras, lahir di Samos, Ionia, Yunani, filsuf (dan ahli matematika).

[c.560-480SM]    Siddharta Gautama, terlahir dalam komunitas suku Sakya, dari pasangan Suddhodana-Maya, raja Kapilavasthu, Nepal. Siddharta menjadi Buddha di Isipatana, dekat Benares (India) kini.

[c.551-479SM]   Confusius (pelatinan Kung Futzu, Guru Kung), Cina

[Abad-5SM]         Shinto, menurut ‘kokugaku’ (kurikulum nasional) dan mitologi Shinto abad-19M, adalah agama asli Jepang yang percaya bahwa orang Jepang adalah ras unik keturunan dewa. Sejarah tertulis Jepang baru muncul pada abad-5SM. Bukti arkaeologi modern menunjukkan adanya pengaruh berbagai migrasi di Jepang dan lapisan-lapisan kebudayaan yang membentuk agama dan kebudayaan Jepang masa kini. Beberapa artefak yang ditemukan di Jepang paralel dengan yang ditemukan di Cina, Mediteranea, dan Amerika pra-Kolumbian.

[304-232SM]         Ashoka, Raja Dinasti Maurya, India (utara dan tengah), menjadi Buddhis dan meninggalkan Edik Ashoka [262] dalam bentuk prasasti di berbagai tempat, beberapa di antaranya dalam bahasa Aram.

[250-130SM]       Septuaginta disusun di Alexandria, Mesir [250SM] dengan dukungan Ptolomeus II Philadelphus (285-247).

Text Box: Diaspora

Text Box:  

Text Box: 721
Text Box: 587
Text Box: Abad-3
Text Box: Abad-5
Text Box: Assyria

Text Box: Babylonia

Rectangular Callout: Judea jatuh
Rectangular Callout: Israel jatuh
Text Box: Persia (Aram)

Text Box: Yunani (Yunani)

 

 

 

 

Rectangular Callout: Siddharta 560-480
Rectangular Callout: Pythagoras 569-475
 
Rectangular Callout: Confusius
551-479
Rectangular Callout: Septuaginta
Rectangular Callout: Ashoka
Rectangular Callout: Zarathustra 630-553
Rectangular Callout: Mahavira 599-527
 
Rectangular Callout: Lao-tze
604-521
 
Rectangular Callout: Shinto
 

 

Khazar, Chazar (Rusia)

Kawasan yang dihuni orang-orang Khazar terletak di antara Laut Hitam dan Laut Kaspia, diapit Ukraina dan Kazakhstan. Bangsa Khazar berasal dari suku kuno Turki (Hun, atau Hsiung-nu) yang beralih memeluk Judaisme dan berhasil membentuk Khazaria, kerajaan kuat di masa Abad-7M hingga Abad-10M. Orang-orang Jahudi Eropa Timur (Ashkenazi) adalah keturunan orang Khazar. [Arthur Koestler, "The Thirteenth Tribe", London, 1976]. Keberadaan dan kemajuan orang-orang Khazar mengindikasikan akulturasi Jahudi Diaspora (yang melek huruf dan berteknologi) dengan suku Turk yang buta huruf dan bergaya-hidup nomad.

Pathan (Afghanistan)

Di sekitar perbatasan Afghanistan, Pakistan dan India, bermukim sekitar 15 juta kelompok suku Pathans (atau Pashtuns, Paktuns, Pushtuns, yang berbahasa Pashtu), beragama Islam. Namun menganggap diri sebagai anak-cucu Kish, keturunan Raja Saul. Orang Pathan bertradisi menyunat anak di usia delapan hari (Muslim biasanya menyunat anak di usia 12 tahun), berpakaian model tzizit orang Israel, menyalakan lilin pada Jumat malam dan berpantang makan seperti ketentuan Kashrut. Nama-nama 60an kelompok Pathan banyak mengandung kata Yusuf (=Joseph=Yosef), seperti Yusufzai, Yusufuzi, Yusufzad. Yusufzai berarti anak Yosef. Mereka menamakan diri suku bene Israel, atau anak Israel, dan bertradisi memiliki leluhur yang datang dari barat. Pathans bertradisi pernikahan ipar, yang mengharuskan saudara laki-laki menikahi janda saudaranya yang meninggal tanpa keturunan, sama seperti Israel kuno (Ul 25:5-6). Pathans juga bertradisi mengorbankan kambing penebusan, sama seperti masa Israel kuno yang membebankan dosa seluruh bangsa pada domba yang diusir ke gurun dan disembelih (Im16).

Kashmir (India)

Di Negara Bagian Kashmir (India bagian utara, sebelah barat Nepal), yang  terletak di lembah yang luas indah dan dikelilingi pegunungan tinggi, bermukim sekitar 5-7 juta orang Kashmir. Penampilan fisik mereka berbeda dengan umumnya orang India. Tradisi mereka memang mengindikasikan perbedaan asal-usul. Nama-nama puak orang Kashmir dan beberapa nama tempat sangat berbau Jahudi, misalnya Asheriya=Asher, Dand=Dan, Gadha=Gad, Lavi=Levi, Shaul=Saul, Musa=Moses, Suliamanish=Solomon, Israel=Israel, Abri=Hebrew, Kahana = mirip kata Ibrani yang berarti pendeta (seperti cohanim di Afrika). Orang Kashmir memiliki hari raya Pasca pada musim semi, saat dilakukan penyesuaian perbedaan penanggalan candra dan surya, dengan cara seperti yang dilakukan orang-orang Jahudi. Mereka memang menyebut diri sebagai Bene Israel, Anak-anak Israel. Orang Kashmiri menghormati Sabbath (beristirahat dari semua jenis kerja); menyunat bayi pada usia delapan bulan; tidak makan ikan yang tak bersisik dan bersirip, dan merayakan beberapa hari raya Jahudi lainnya, tetapi tidak yang berasal dari setelah kehancuran bait Allah pertama (seperti Hannukah).

Shin-lung atau Bene Menashe (di sekitar perbatasan India-Myanmar)

Di kawasan pegunungan di kedua sisi perbatasan India-Myanmar, bermukim sekitar 2 juta orang Shinlung. Mereka memiliki tradisi penyembelihan binatang korban seperti suku-suku Israel kuno pada umumnya, dan menyebut diri anak Menashe atau Bene Menashe. Kata Menashe banyak bermunculan dalam puisi dan doa (mereka menyeru “Oh God of Menashe”). Mereka memiliki tradisi cerita yang mengatakan bahwa mereka dibuang ke suatu tempat yang berada di sebelah barat tempat asal mereka, lalu bermigrasi ke timur dan mulai menjadi penggembala dan penyembah dewa. Migrasi mereka berlanjut ke timur, mencapai perbatasan Tibet-Cina, lalu mengikuti aliran Sungai Wei, hingga masuk dan bermukim di Cina Tengah sekitar tahun 230SM. Orang Cina menjadikan mereka sebagai budak, sehingga beberapa diantara mereka melarikan diri dan tinggal di gua-gua kawasan pegunungan Shinlung, dan hidup miskin selama dua generasi. Mereka juga disebut orang gua atau orang gunung dan tetap menyimpan kitab suci mereka. Akhirnya mereka mulai berasimilasi dengan orang Cina dan terpengaruh budaya Cina, hingga akhirnya mereka meninggalkan gua-gua pegunungan dan pergi ke barat, melalui Thailand, menuju Myanmar. Setelah itu mereka berkelana tanpa kitab suci, dan membangun tradisi lisan, hingga sampai di Sungai Mandaley, dan menuju Pegunungan Chin. Pada abad-18 sebagian dari mereka bermigrasi ke Manipur dan Mizoram, India Timurlaut.

Mereka sadar bahwa mereka bukan orang Cina meskipun menggunakan bahasa Cina dialek lokal, dan menyebut diri Lusi yang berarti Sepuluh Suku ("Lu" berarti suku, dan "si" berarti sepuluh). Tradisi Menashe antara lain adalah sunat (kini sudah ditinggalkan), upacara pemberkatan anak pada usia 8 hari, hari raya keagamaan yang mirip dengan hari raya keagamaan Jahudi, praktek pernikahan ipar demi kelangsungan nama marga, menyebut nama Tuhan sebagai “Y'wa”, dan memelihara puisi yang mirip dengan kisah penyeberangan Kitab Keluaran ketika bangsa Israel menyeberang Laut Merah. Di setiap kampung ada pendeta atau imam yang selalu bernama Harun (Aaron, saudara Musa dan Imam Pertama Jahudi) dengan pewarisan turun-temurun. Salah satu tugas mereka adalah mengawasi kampung, berdoa dan mempersembahkan korban, dengan jubah ber-‘breastplate’, ikatpinggang dan mahkota, dan selalu membuka doa dengan menyebut nama Menashe.

Dalam kasus terdapat orang jatuh sakit, para imam dipanggil untuk memberkati pesakit dan mempersembahkan korban. Imam akan menyembelih domba atau kambing dan mengoleskan darahnya di telinga, punggung dan kaki pesakit sambil mengucapkan mantra yang mirip dengan Im14:14. Pada kasus penyakit khusus, diselenggarakan upacara khusus. Semacam upacara penebusan yang dilakukan dengan memotong sayap burung dan menebar bulunya ke udara. Pada kasus penyakit lepra, para imam menyembelih burung di lapangan terbuka. Untuk penebusan dosa, dilakukan pengorbanan domba di altar seperti dilakukan di Bait Allah (seperti disaksikan seorang penulis di hutan Myanmar sekitar tahun 1963-1964). Darah sembelihan ditorehkan di ujung altar, dagingnya dimakan. Yom Kippur dirayakan sebagai hari penebusan, sekali setahun seperti tradisi Jahudi. Kendaraan imam tidak boleh dibuat dari logam, namun dari tanah liat, kain, atau kayu. Melakukan praktek pemujaan berhala dan mempercayai klenik sehubungan dengan roh dan setan. Percaya reinkarnasi tapi percaya Tuhan di sorga akan membantu dalam kesusahan.

Ch’iang-min (Cina)

Orang-orang Ch’iang atau Ch’iang-min (sekitar 250 ribu orang, 1920) bermukim di Propinsi Sechuan, Cina bagian barat, di daerah pegunungan sebelah barat Sungai Min, dekat perbatasan Tibet [Thomas Torrance “The History, Customs and Religion of the Ch’iang People of West China” (1920) dan “China’s First Missionaries: Ancient Israelites” (1937)]. Mereka menganggap diri sebagai imigran dari barat yang datang ke tempat tersebut setelah berjalan selama tiga tahun tiga bulan. Orang Cina menganggap mereka sebagai barbar, dan mereka menilai orang Cina sebagai penyembah berhala (Ch’iang-min percaya hanya pada satu tuhan dan menyebutnya ‘Yawei’ ketika berada dalam kesulitan). Ch’iang-min mempraktekkan persembahan korban yang dilakukan imam, jabatan yang hanya bisa dijabat oleh pria yang sudah menikah (Im 21:7,13) dan diwariskan turun-temurun.

Para imam mengenakan jubah putih bersih dan bersurban khusus. Mezbah dibuat dari batu yang tidak dipotong dengan alat logam (Kel20:25), dan tidak boleh didekati oleh orang asing dan “cacat” (Im21:17-23). Para imam Ch’iang-min menggunakan tali pengikat jubah, dan sebatang tongkat berbentuk seperti ular (kisah Musa di gurun). Setelah berdoa, para imam membakar bagian dalam dan daging korban sembelihan, dan mengambil bagian pundak, dada, kaki dan kulit, sementara dagingnya dibagikan kepada pemberi persembahan. Saat persembahan, mereka mengibarkan 12 bendera di sekitar altar untuk menjaga tradisi bahwa mereka berasal dari satu bapak yang memiliki 12 anak. (Mereka bertradisi sebagai keturunan Abraham dan berleluhur seorang bapak dengan 12 anak). Di antara orang Ch’iang, terdapat tradisi mengoleskan darah pada ambang pintu demi keselamatan dan keamanan rumah, pernikahan ipar, tudung kepala bagi wanita, memberi nama anak pada usia 7 hari hingga menjelang malam ke-40.

Buddha: Edik Raja Ashoka, India

Pada tahun 262SM, Raja Ashoka [269-232SM] dari Dinasti Maurya (India Tengah dan Utara, c.322-184SM) memproklamirkan peralihan kepercayaannya menjadi Buddhis, setelah bertobat dari kekejamannya membantai 100,000 manusia. Ia menandai peristiwa pertobatannya dengan membuat prasasti –dikenal sebagai Ashoka Edicts- pada batu dan pilar di seluruh India, mulai dari Teluk Benggala hingga ke jantung pegunungan Kush di Asia Tengah.

Prasastinya memuat prinsip ajaran Buddha yang digubah menjadi perintah untuk menghormati orangtua dan guru, tidak melakukan perbuatan jahat, irihati terhadap tetangga, perbudakan yang kejam, membunuh binatang hanya untuk dimakan, dan lain-lain.

Prasasti Girnar, Edik Ashoka

Prasastinya bermakna ganda, pertama, karena merefleksikan Dasa Titah Alkitab dan nilai-nilai kemanusiaan yang dikembangkan komunitas Jahudi Babelonia. Kedua, karena dominasi penggunaan bahasa Aram, sebagian kombinasi Aram-Prakit (bahasa India), sebagian lainnya kombinasi Aram-Yunani, bahkan beberapa hanya dalam bahasa Aram. Kedua hal ini mengindikasikan kehadiran Jahudi Diaspora di India Utara, pada abad-3SM.

Shinto: Ontohsai (Suwa-Taisha) dan lain-lain

Di sebuah kuil Shinto bernama Suwa-Taisha di Nagano, Jepang, setiap tanggal 15 April diselenggarakan festival Ontohsai, dengan peragaan adegan yang mirip dengan peristiwa Kel.22. Seorang anak diikat pada sebuah tonggak kayu yang diletakkan di atas anyaman bambu, didekati seorang pendeta Shinto yang memegang pisau, yang lalu menorehkan pisaunya pada tonggak kayu. Kemudian, datanglah seorang pendeta Shinto lain yang memerintahkan pembebasan anak tersebut. Di belakang kuil terdapat sebuah bukit yang diberi nama “Moriya-san” (orang Suwa-Taisha menyebut nama tuhan Bukit Moriya sebagai “Moriya-no-kami” yang berarti Tuhan Bukit Moriya). Kuil Suwa-Taisha memang dibangun untuk pemujaan “Moriya-no-kami”. Bersamaan dengan Ontohsoi dilakukan persembahan korban sembelihan 75 ekor rusa (dalam Shinto persembahan sembelihan bukan kelaziman).

Pengorbanan dalam Ontohsoi tidak dilakukan lagi sejak pada jaman Meiji, namun ada rekaman rinci festival pra-Meiji hasil catatan Masumi Sugae yang disimpan di museum dekat Suwa-Taisha. Catatan itu menyatakan bahwa Ontohsoi diprakarsai dan ditradisikan oleh keluarga Moriya, sepanjang 78 generasi. Kurator museum menyatakan kepercayaan terhadap Moriya-no-kami telah berlangsung sejak sebelum masehi. Dalam bahasa Jepang terdapat ribuan kata dan nama tempat yang tidak memiliki arti etimologis. Banyak sekali di antaranya yang berhubungan dengan kata Ibrani, beberapa di antaranya.

KATA IBRANI

MAKNA

KATA JEPANG

MAKNA

Daber

bicara

Daberu

bercakap-cakap

Goi

orang asing

Gai'Jeen

Awalan untuk kata asing

Kor

Dingin

Koru

Membeku

Knesset

Parlemen

Kensei

Pemerintah konstutusional

Hosea

Raja Israel terakhir [732-724]

Osee

Raja Jepang c.730SM

Tokin (kotak hitam kecil membulat) yang dipasang didahi Yamabushi [calon imam Shinto] dengan tali pengikat, mirip dengan phylactery atau patam yang digunakan imam Jahudi (Kel.28:36-38). Tradisi ini khas Jepang, tidak terdapat di Cina atau Korea, dan sudah dipraktekkan sebelum Buddha masuk ke Jepang pada Abad-7M).

Yamabushi meniup kerang laut, mirip imam Jahudi meniup shofar dari tanduk domba (di Jepang tidak ada domba).  Ninja yang pergi menemui semacam yamabushi di gunung untuk memperoleh kekuatan supranatural, akan diberi ‘tora-no-kami’, gulungan tora. Cara orang Jepang memanggul omikoshi dengan dua rusuk kayu, mirip dengan cara orang Israel memanggul Tabut Perjanjian (1Tar15:15) dengan dua rusuk kayu (Kel25:10-15). Jubah imam Shinto berwarna putih dengan rumbai sepanjang 20-30cm di ujungnya, mirip dengan jubah imam Jahudi (Ul22:12).

Tataletak kuil Shinto mirip dengan Bait Allah Pertama (jaman Solomo) lengkap dengan Ruang Suci, Ruang Maha Suci, dan temizuya (tempat pembasuhan kaki dan tangan) di bagian depan. Setiap kuil Shinto pasti memiliki torii, gerbang masuk dari dua tonggak kayu dengan satu balok melintang di antara tonggak. Di masa lalu torii terdiri dari hanya dua tonggak kayu dengan tali penghubung di bagian atasnya, mirip dengan gerbang Jahudi kuno [1Raj.7:21].

Taoisme: Pernik Upacara Taois

Beberapa catatan pendahuluan tentang tradisi pernik upacara Taois di Cina [masih memerlukan verifikasi]

a.   Penggunaan rumbai di ujung jubah, adalah salah satu tatacara baku pemakaman Taois. Penggunaan rumbai berwarna biru dimulai sejak jaman Dinasti Han

b.   Tradisi memandikan jenazah sebelum pemakaman.

c.   Tradisi penggunaan garam dalam persembahan korban (dulu pernah dilakukan penyembelihan domba)

d.  Penggunaan warna ungu dan biru (seperti digunakan para imam Jahudi) dalam upacara Pemujaan Surga

e.  Wanita yang sedang menstruasi dianggap tidak layak mengikuti upacara

f.   Tradisi semacam penyucian diri, seperti mandi atau penyucian tangan (hingga tiga kali)

g.  Hingga datangnya Buddhisme, Zat Ilahi yang disembah adalah abstrak, hingga kinipun Tuhan masih tetap tanpa citra. Goresan aksara Tuhan (tian) berjumlah 4 (Tetragammaton, JHVH?), bahkan dalam naskah TaoTeChing terdapat kata-kata Yi Si Wei (JHVH?).

h.  Adanya aksara Ibrani dalam aksara Cina, seperti terdapat pada bejana wadah hio.

i.   Upacara Taois yang mirip dengan tatacara para imam memasuki Ruang Maha Suci.

j.   Beberapa aksara Cina mengandung konsep biblikal, tetapi tidak akurat jika ditinjau dari konsep Kristen.

Penutup

Tulisan ini tidak bermaksud menampilkan superioritas ras atau budaya tertentu. Jika tulisan ini menimbulkan kesan seolah-olah menonjolkan superioritas suatu budaya tertentu, hal itu semata-mata terjadi karena topik yang berfokus pada peran suatu etnis di Jalur Sutra. Keberadaan unsur asing dalam kebudayaan suatu bangsa adalah sebuah kewajaran. Penyerapan unsur asing ke dalam suatu budaya lokal tidak berarti menunjukkan inferioritas kebudayaan yang menyerapnya. Sejarah justru mencatat, kebesaran suatu kebudayaan berkorelasi positif dengan banyaknya unsur asing yang diserap dan dikembangkan oleh komunitas budaya bersangkutan. Sejarah juga mencatat interaksi suatu komunitas budaya dengan komunitas budaya lain, berjalan timbal balik, tidak pernah searah saja. Tulisan ini mestilah dipahami sebagai upaya menampilkan kemungkinan terjadinya pertukaran nilai budaya dalam rentang waktu beberapa abad antara Timur dengan Barat.

Pada jaman Jesus, perjalanan dari Judea ke India sudah mungkin dilakukan (kontak Mesir-Cina mungkin sudah terjadi satu milenium sebelumnya, kontak Israel-Cina dan Israel-India sudah berlangsung beberapa abad sebelum masehi). Buddhisme (dan mungkin Hinduisme) sudah diperkenalkan di Alexandria, Mesir (salah satu pusat intelektual di jamannya) pada Abad-3SM oleh para utusan Raja Ashoka (semasa dengan awal Septuaginta). Sangat mungkin komunitas Jahudi di Alexandria telah mengenalnya di masa sebelum masehi. Beberapa sekte Jahudi (misalnya Therapeutae) memiliki praktek yang mirip dengan Buddhisme (seperti kehidupan komunal, selibat, vegetarian), namun kemungkinan besar mereka memperolehnya dari komunitas Pythagorean. Phytagoras sejaman dengan Siddharta, praktek Buddhisme dan praktek Pythagorean yang mirip, pasti muncul secara independen.

Komunitas Alexandria di fajar tarikh masehi sangat mungkin telah mengetahui keberadaan praktek yang mirip dari dua tradisi sejaman yang berbeda asal. Judaisme berinteraksi dengan Buddhisme (di awali di India Utara masa Dinasti Mauryan, hingga masa kejayaan Alexandria). Judaisme juga berinteraksi dengan Hellenisme (terutama di Alexandria). Jesus mewarisi kekayaan interaksi Judaisme-Hellenisme-Buddhisme sekaligus.

Batam, Blora, Bandung – Juni/Juli 2001

Heri Muliono